Sosok Sri Legiyem (48), Keluarga Penerima Manfaat KPM Program PKH asal Kota Depok Bisa Jadi Inspirasi

MM – Sosok Sri Legiyem (48), Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) asal Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, bisa jadi inspirasi bagi kita yang ingin bertumbuh usahanya.

Bertepatan dengan Bulan Peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-76 dengan tema Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, sangat tepat menggambarkan ketekunan Sri Legiyem dalam menumbuhkembangkan usahanya.

Seperti pendamping PKH di Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Muhammad Andika Riyadi, yang mengungkap sisi menarik dari sosok Sri Legiyem. Dikatakan Andika, Sri memiliki kesadaran dan keinginan kuat untuk terus tumbuh dan berusaha.

“Ada jiwa gigih dan semangatnya beda gitu dari (KPM) yang lain. Ada keinginan untuk terus tumbuh, kesadaran untuk mandiri, dan ngga mau terus-terusan jadi penerima bantuan, dalam diri beliau itu sudah kuat. Dan ini akhirnya menginspirasi ibu-ibu KPM yang lain, gitu,” kata pria yang juga dipercaya sebagai salah satu koordinator PKH di Kecamatan Cimanggis ini.

Bermula dari keresahan Sri menghadapi pandemi Covid-19 pada 2020, yang berdampak pada usaha kerupuk dan ojek yang dijalaninya bersama suami selama hampir 25 tahun belakangan, ia memutuskan untuk menjual kebutuhan dapur, dimulai dengan bumbu yang paling sering digunakan, seperti bawang merah, bawang putih, cabai, dan tomat, secara online.

“Dari awal kami menikah, sampai hampir 25 tahun, suami jualan kerupuk. Tapi, sejak pandemi tahun lalu, ngga ada pemasukan sama sekali dari ojek, dari kerupuk, sempet bingung, hampir putus asa mau usaha apa. Semua orang (beralih dari transaksi konvensional ke) online, ya kita coba manfaatin online untuk berjualan juga,” ujarnya.

Ia menjajal peruntungan dengan menjual kebutuhan dapur secara online melalui saluran media sosial WhatsApp dengan memanfaatkan fitur status dan chat grup yang dimiliki di lingkungan terdekatnya.

“Saya pasang status berupa video. Setiap habis belanja itu semua bahan saya videoin, terus banyak yang pesan. Atau saya tulis ‘Monggo, yang mau pesan dilist, masih ditunggu’, gitu. Jadi, mereka dari malem tinggal ngelist aja yang mau dipesan. Ada yang belanja mingguan, ada yang belanja buat sehari itu, pernah ada yang belanja buat hajatan juga,” terangnya.

Tidak hanya menjual bumbu-bumbu dapur dan sayur-mayur segar, ia pun menjual olahan lauk dan sayur dalam sajian matang. “Kalau lauk mateng, biasanya dari sore saya sudah buat status ‘Ready buat besok pagi’. Saya sebutin pilihan menu yang saya masak, kaya’ pepes jamur, pepes ikan kembung, garang asem, gitu-gitu. Nah, nanti ada yang pesan gitu. Alhamdulillah, responnya lumayan sampai sekarang,” paparnya.

Mengaku motivasi awal berangkat dari faktor kebutuhan, lambat laun motivasinya berubah jadi keinginan untuk terus maju dan berkembang. “Ya awalnya, memang faktor kebutuhan, sayur, bumbu gitu kalo ngga laku bisa dipake sendiri, dimasak sendiri, terus lama-lama pengen maju aja, terus berusaha dan senang di kegiatan seperti ini. Alhamdulillah, banyak jalan, ada saja permintaan dari tetangga,” kisahnya.

Berkat ketekunannya, ia mampu membalikkan kondisi dari yang semula tidak berdaya akibat pandemi, kini bangkit melawan ketidakberdayaan itu, sampai memiliki warung kelontong sendiri, hanya dalam kurun waktu setahun.

*Bantuan PKH Disisihkan untuk Modal Usaha*

Segala usaha yang ia lakukan tak lepas dari upayanya menyisihkan sebagian uang dari bantuan sosial (bansos) PKH yang ia terima setiap tiga bulan sekali. “Awalnya, rutin nyisihin sedikit-sedikit dari bantuan PKH untuk nanti kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendesak. Tadinya, ngga kepikiran akan ada pandemi ini, ternyata yaa manfaatnya untuk modal usaha jualan ini,” ungkap ibu empat anak ini.

Sri Legiyem terdaftar sebagai penerima manfaat bantuan sosial (bansos) PKH pada 2017 dengan empat komponen saat itu, yaitu satu balita dan tiga anak yang duduk di bangku SD, SMP dan SMA. Seiring berjalannya waktu, komponennya tersisa dua, yaitu anak SD dan SMP dengan jumlah bantuan yang ia terima kurang lebih sebesar Rp700 ribu setiap tiga bulan.

Sebagian bantuan PKH, dikatakan Sri, ia pakai untuk kebutuhan sekolah anak-anak, beli buku, makanan dan lain-lain. Sementara, sebagian lainnya, ia tambahkan untuk modal usaha warung lantaran permintaan pelanggan atas kebutuhan dapur kepadanya makin bertambah dari hari ke hari.

Sadar bahwa bantuan sifatnya sementara, ia enggan berlama-lama menggantungkan penghidupan pada bansos. Sebagai ketua kelompok dalam Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2), yang rutin dilaksanakan dalam PKH, juga turut mendorong keinginan kuat Sri untuk mandiri dan menjadi contoh bagi ibu-ibu KPM lainnya.

“Karena bantuan itu sifatnya hanya sementara, ngga mungkin selamanya, sementara kebutuhan hidup anak-anak (sampai kapan) itu kita ngga pernah tau. Dari situ, gimana untuk terus berkembang lagi, bisa mandiri, syukur-syukur bisa keluar dari bantuan PKH, memberi kesempatan pada yang lain untuk bisa dapat bantuan serupa,” pungkasnya. *

570 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

CLOSE
CLOSE
× Hallo Redaksi