Kedua Kalinya Drs. Oktrivian, SH dilantik sebagai Majelis BPSK

MM – KOTA BOGOR – Drs. Oktrivian SH kembali dilantik sebagai majelis Badan Perselisihan Sengketa Konsumen (BPSK) Priode 2021-2026 Kamis 25 Februari 2021, Kota Bogor.

Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar), Uu Ruzhanul Ulum, melantik dan mengambil sumpah anggota Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bogora secara virtual, di tengah pandemi covid-19, dengan menerapkan protokol kesehatan, Kamis (25/2).

Selain dari Kota Bogor turut pula dilantik anggota BPSK Kota Cirebon, BPSK Kabupaten Karawang, BPSK Kota Bandung, dan Kabupaten Sukabumi, semuanya dilakukan serentak secara virtual.

Wagub Uu sapaan akrabnya, meminta BPSK yang ada di wilayah Jawa Barat untuk lebih gencar memperjuangkan hak konsumen.

“Rangkul masyarakat, dengarkan keluhan mereka. Dan selesaikan pengaduan mereka sesuai peraturan perundang-undangan,” ujar Uu. 

Seusai dilantik Drs. Oktrivian, SH memgucapkan rasa syukur, karena ini kali kefua dirinya kembali terpilih dalam menangani perkara-perkara perselisihan konsumen. Ia menyadari keberadaan BPSK diharapkan memberikan rasa tenang bagi masyarakat konsumen maupun pelaku usaha.

“BPSK memberikan kepastian hukum akan perlindungan konsumen yang lebih terjamin. Maka bekerjalah dengan profesional, dan mengingat teguh sumpah yang diikrarkan,” tegas pria kelahiran Bukit Tinggi 1967. 

Ia menyatakan BPSK adalah jendela bagi Pemprov Jawa Barat, sehingga jika BPSK hebat, maka Pemprov Jawa Barat akan mendapat tanggapan positif dari masyarakat Jawa Barat.

“Sebaliknya jika BPSK lalai menjalankan tugas maka Pemprov Jawa Barat pun akan mendapat tanggapan negatif,” ujarnya.

Seusai pelantikan, sebut dia, para anggota BPSK ini akan memilih Ketua dan Wakil Ketua.“Setelah unsur pimpinan terbentuk, baru kemudian kami membentuk tim majelis. Di mana tiap majelis terdiri dari unsur pemerintah, konsumen dan pelaku usaha,” ujar Ovi, sapaan Oktrivian kepada MEDIA MUTIARA (26/2).

Oktrivian juga Kepala Biro Hukum dan Advokasi LPKSM YUDHA PUTRA Wilayah Jawa BaratLPKSM YUDHA PUTRA, yaitu sebuah Lembaga Perlindungan Konsumen.
Ovi, sapaannya berkeinginan total mengabdi kepada masyarakat.

“Mudah-mudahan akan mengantarkan perjalanan saya menjadi seseorang yang dikenal dan diperhitungkan keberadaan dan eksistensinya di dalam gerakan Hukum Perlindungan Konsumen di Jawa Barat dan Jabodetabek umumnya serta Kota Bogor khususnya,” ujarnya.

Kini Drs. Oktrivian resmi adalah salah satu Majelis BPSK Jawa Barat- Kota Bogor, Kepala Biro Hukum Dan Advokasi LPKSM YUDHA PUTRA Wilayah Jawa Barat, Pendiri Perusahaan Media PT. MEDIA MUTIARA CITRA, Kepala Divisi Hukum dan Advokasi DPC Kota Bogor LEMBAGA ALIANSI INDONESIA, Departemen Komando Garuda Sakti, Penasehat Organisasi pada beberapa Ormas dan LSM di wilayah Bogor dan sekitarnya. 

Kegiatan sehari-hari aktif memberikan konsultasi hukum perlindungan konsumen dan memberikan advokasi serta jasa bantuan hukum melalui LPKSM YUDHA PUTRA.

Biografi Ovi, kelahiran Kota Bukit Tinggi 1967, merupakan bayi merah berkelamin Laki-laki lahir di sebuah RS. Katolik ternama yang ada di Kota Bukit Tinggi, sebuah kota kecil yang pernah digunakan SOEKARNO untuk memindahkan sementara Ibu Kota Negara pada masa pendudukan Belanda.

Bayi itu dihadiahkan sebuah nama Austria, OKTAVIANUS oleh dokter rumahsakit tersebut yang membantu kelahirannya, yang berkebangsaan Austria. 

Namun kemudian, orang tua si bayi yang beragama Islam, diubah menjadi OKTRIVIAN, mengingat ia lahir di bulan Oktober dan juga memang putra ketiga dari pasangan muda yang bekerja sebagai guru sekolah SMP kapa itu.

Usia 3 bulan atau sekitar awal 1968, Oktrivian kecil dibawa merantau oleh kedua orang tuanya ke daerah Sumatera Selatan, Lahat tepatnya. Perjalanan laut menggunakan kapal kayu bermuatan barang adalah pilihan yang dapat dijangkau keluarganya saat itu, maka dimulailah petualangan hidup pertamanya.

“Alhamdulillah, setelah beberapa hari mengarungi samudra Indonesia melewati gulungan ombak laut Cina Selatan yang menggunung, Oktrivian kecil menjadi satu-satunya bayi yang bertahan hidup dari 3 bayi lainnya yang harus menemui penciptanya di kapal itu dan terpaksa dimakamkan kedalam perut lautan,” kisahnya.

Masa kanak-kanak hingga remaja muda dihabiskan di Lahat, berbaur dengan anak lokal sebaya. Meski tidak jarang Oktrivian harus menghadapi intimidasi teman-teman lokal saat itu namun berkat tekad bulat dan pantang menyerah, di bangku SMA ia telah cukup dihormati diantara anak-anak muda perusuh sebayanya. Bahkan menginjak pendidikan universitas, ia telah berubah menjadi sosok yang diperhitungkan keberaniannya dilingkungan pelajar mahasiswa Lahat maupun dilingkungan kampus Universitas Sriwijaya.

Salah satu penyebabnya mungkin juga karena ia salah satu aktivis MENWA masa itu yang cukup eklusif karena dapat masih dianggap anak emas TNI AD kala itu.

Hampir semua jenjang pelatihan dan pendidikan MENWA ditempuhnya dengan baik, berbagai operasi dan penugasan tingkat daerah dan nasional ia laksanakan, tidak terkecuali operasi TIM TIM, sehingga tidak heran, jika ia memiliki sejumlah brevet dan penghargaan dari Departemen Pertahanan dan Keamanan masa itu.
Selepas kuliah Oktrivian memilih dunia bisnis sebagai matra pengabdiannya, namun tidak terlalu mulus, sehingga di tahun 2004, ia harus hijrah ke Jakarta dan meniti kehidupan sebagai anak jalanan di wilayah Tanjung Priok dan sekitarnya bersama-sama anak jalanan lainnya.

Hidup dari terminal ke terminal dan taman kota satu ke taman kota lainnya, namun ia tetap dihormati oleh sesama anak jalanan dilingkungannya itu.
Suatu hari, seorang saudara mengetahui keberadaannya di Jakarta dan meminta untuk tinggal di rumahnya, yang kemudian membuat peta hidup Oktrivian berubah.

Setelah tinggal bersama saudara, Oktrivian yang saat itu telah berusia 37 tahun sempat menjalankan berbagai bisnis, mulai dari event organizer, buruh kasar, supir angkot dan truck ekepedisi, marketing produk  sales oli hingga usaha home industri, namun toh akhirnya harus jatuh dan jatuh lagi.

Untungnya ia tidak pernah mengeluh apalagi menyerah kepada hidup.
puncaknya ketika ia menhadi tenaga pengajar honorer di sebuah Politeknik di Bogor, ia mendapat tawaran bergabung dengan LPKSM YUDHA PUTRA, yaitu sebuah Lembaga Perlindungan Konsumen yang kelak akan mengantarkan perjalanannya menjadi seseorang yang dikenal dan diperhitungkan keberadaan dan eksistensinya di dalam gerakan Hukum Perlindungan Konsumen di Jawa Barat dan Jabodetabek umumnya serta Kota Bogor khususnya.
Saat ini Drs. OKTRIVIAN, adalah salah satu Majelis BPSK Jawa Barat- Kota Bogor, semoga amanah. (hais)

1,155 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

CLOSE
CLOSE
× Hallo Redaksi